'Bonus untuk Timnas U-19 Jangan Sampai Politis'
24 September 2013

Beritabola.com Jakarta - Munculnya wacana penggalangan dana untuk bonus ke para pemain timnas Indonesia U-19 disebut sebagai langkah bagus. Namun, potensi unsur politis di baliknya juga tetap harus diwaspadai.


Menyusul keberhasilan timnas menjuarai Piala AFF U-19 lalu, perkara bonus ikut menyeruak. Pembahasan kian seru setelah pemerintah, melalui Kemenpora, ternyata tidak memiliki anggaran bonus untuk para pemain timnas U-19.

Hal ini kemudian membuat beberapa kalangan disebut-sebut mulai berinisiatif melakukan penggalangan dana untuk memberi bonus kepada Evan Dimas cs. Namun, sejumlah sosok itu sedikit-banyak diindikasikan memiliki keterkaitan dengan dunia politik.

"Penggalangan dana tidak bisa dipungkiri bisa politis, sepakbola kita sudah lama dipolitisasi," aku wartawan senior Budiarto Shambazy kepada detikSport.

"Tapi selama mereka mau memberikan sumbangan tanpa ikatan nggak ada masalah, baik itu dari perusahaan, parpol, atau pemerintah," sambung pria yang juga pengamat olahraga itu.

Pada prosesnya Menpora Roy Suryo sempat menguak kemungkinan memberikan bonus kepada para pemain timnas U-19 dalam bentuk beasiswa, walaupun harus terlebih dulu mencari sumber dananya. Ia sekaligus menyebut bahwa tradisi pemberian bonus dalam bentuk uang tunai kurang tepat.

Budiarto menilai, pemberian bonus dalam dunia olahraga Indonesia merupakan hal yang lazim terlepas dari apapun bentuknya. Tetapi ia menambahkan kalau bonus dalam bentuk uang akan bersifat lebih fleksibel untuk si penerima.

 

"Atlet cabang apapun dari dulu biasanya dapat uang atau inatura, dalam bentuk barang. Itu normal, biasa, jangan diatur-atur. Mereka manusia biasa, punya kebutuhan," katanya.

"Sekarang hadiah uang biasanya bukan uang tunai tapi seperti tabungan untuk beberapa waktu. Tetapi uang atau bukan, bonus ini adalah praktik normal. Yayuk Basuki dulu dikasih mobil mewah, nggak ada masalah," lanjutnya merujuk pada keberhasilan mantan petenis Yayuk Basuki menembus perempatfinal Wimbledon 1997.

"Beasiswa harus diliat satu-satu. Uang itu paling gampang, mereka perlu duit untuk tabungan, untuk sekolah, beli tanah, bantu keluarga, dan lainnya. Sedangkan inatura memang agak repot," beber Budiarto.

Ia lantas menyindir aktivitas Menpora Roy Suryo yang mengaku tak punya anggaran untuk memberikan bonus untuk para pemain timnas U-19 tetapi malah mampu menggelar turnamen lain. "Menpora kan bikin Piala Menpora yang diselenggarakan bersamaan dengan Piala AFF U-19, mendingan uang turnamen dipakai untuk bonus," sindir Budiarto.
(dtc/krs)  Sumber: detiksport